Lapor   PPID  
Lapas Sarolangun Gandeng Dinas PU Buat Kolam Ikan
Sarolangun - Tidak henti-hentinya petugas Lapas Sarolangun membuat terobosan, kali ini kejutan datang dari Pembinaan Kemandirian, dengan dukungan sumberdaya alam berupa hamparan lahan tidur cukup luas yang dimiliki oleh Lapas Sarolangun bisa diolah secara maksimal untuk menunjang Pembinaan Kemandirian bagi Warga Binaan Lapas Sarolangun.

Lokasi sisi kiri luar tembok blok, tepatnya di depan perumahan dinas  pegawai Lapas sarolangun yang akan dijadikan tempat pembuatan kolam, tampak masih padang rumput berawa
Hal ini terlihat dari pembuatan kolam ikan baru dengan ukuran cukup besar yakni 600 m2, sebelumnya pernah juga dibuat kolam dengan daya tampung kecil, sekarang dibuat baru 50 kali dari ukuran kolam sebelumnya, kondisi tekstur tanah sekitar Lapas yang digenangi air rawa berlumpur, tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi pembuatan kolam, terutama untuk sumber air yang berlimpah dari dalam tanah.

Tidak mudah membuat kolam yang besarnya 600 m2, jika mengandalkan tenaga manusia atau memperkerjakan Warga Binaan sepertinya butuh waktu yang cukup lama, dan agak mustahil rasanya bisa menggali tanah dengan kedalaman hingga 3.5 meter. 

Alat berat mulai bekerja, karena tekstur tanah berawa alat terpaksa disangga menggunakan balok kayu agar tidak terbenam
Kalapas Sarolangun Irwan.,A.Md.I.P.,S.H.,M.H bersama Kaur TU Hariyadi, SH, Kasubsi Pembinaan Nasrul, S.Pd, Kasubsi AO Hermansyah dan Kasubsi Kamtib Hidayat, S.Sy memutar otak mencari solusi agar program pembuatan kolam baru ukuran besar tersebut bisa terealisasi, setelah melalui diskusi yang cukup panjang, maka diputuskan untuk menggandeng Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sarolangun yang notabene-nya memiliki alat berat seperti escavator.

Kolam mulai terbentuk setelah alat bekerja beberapa hari
Proposal kerjasama pun dilayangkan, tidak menunggu waktu lama, Pemerintah Daerah Sarolangun melalui bupati Sarolangun mengabulkan proposal tersebut, "Alhamdulillah terima kasih banyak kami ucapkan kepada Pemda Kabupaten Sarolangun wabil khusus Pak Bupati yang berkenan mengabulkan proposal kita" tutur Kalapas.

Tampak tumpukan tanah berlumpur hasil galian Escvator milik Dinas PU, untuk proses pengeringan agar bisa dijadikan pematang Kolam setelah kering
Jalinan kerjasama ini hanyalah sebagian dari rentetan panjang hubungan baik antara Lapas Sarolangun dan Pemda Sarolangun, yang mana sebelum-sebelumnya ada beberapa proposal yang dikabulkan oleh Pemda Sarolangun untuk Lapas Sarolangun, seperti bantuan 2000 ekor benih ikan nila dari dinas perikanan, Bantuan buku-buku untuk perpustakaan Lapas Sarolangun dari Dispusipda Sarolangun, Bantuan pengecekan kesehatan bagi Warga Binaan lapas Sarolangun dari Dinas Kesehatan khsususnya Puskesmas Sarolangun.

Foto diambil dari Pos menara I, Tampak Kolam sudah selesai digali 100 persen, menunggu lumpur kering untuk dipasang bambu penahan tanah disepanjang sisi pinggir Kolam
Pembuatan kolam memakan waktu 1 minggu, yakni dimulai 4 Januari hingga 11 Januari 2019, pada alat berat bekerja membuat kolam, karena tekstur tanah berlumpur, maka alat berat harus diberikan penyangga balok agar tidak terbenam ke dasar lumpur, sekarang kolam sudah terbentuk, agar lumpur yang sudah ditumpukkan dipinggir kolam tidak erosi dan menutup kolam kembali karena dilubangi ikan nantinya, maka disiasati dengan pemasangan bambu disepanjang bibir kolam.

Hal ini tentu tidak serta merta karena mengingat lumpur masih sangat basah, maka perlu menunggu 2 - 5 minggu hingga lumpur dipastikan benar-benar kering dan bisa untuk diinjak kemudian diatasnya akan dilapasi dengan tanah latrik, Iskandar Warga Binaan Pemasyarakatan Lapas Sarolangun yang juga menjadi Tamping Lapangan pembuatan kolam oleh alat berat Dinas PU, mengatakan bahwa sebelum penebaran benih ikan nantinya perlu dilakukan penaburan zat kimia dengan kadar tertentu untuk mengurangi tingkat keasaman tanah.

"Nanti kolam ditaburkan zat kimia untuk mengurangi tingkat keasaman kolam dan membunuh biota air yang bisa menghambat pertumbuhan ikan pak" ujarnya, lebih lanjut Iskandar mengatakan untuk menghindari terjadi longsornya pematang Kolam maka perlu dipasang bambu, agar tanah pematang tertahan, dan ini juga untuk membuat ikan didalamnya tidak melubangi pematang kolam.

Kalapas melalui Kasubsi Pembinaan Nasrul, S.Pd mengonfirmasikan bahwa nanti untuk kedepannya jika proses budidaya pembesaran sudah berjalan, kita akan usahakan produksi pakan sendiri, karena kalau untuk beli dengan ukuran kolam yang cukup besar tentu membutuhkan biaya yang cukup besar, "Kita sudah ajukan proposal ke Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi melalui Dinas Perikanan Kabupaten Sarolangun", ujar Kasubsi Pembinaan.

"Lokasi sudah disurvey oleh tim dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi dan kabupaten Sarolangun, mudah-mudahan tidak ada kendala yang berarti, sehingga proposal pengadaan mesin produksi pelet ikan segera terealisasi" tutup Kasubsi Pembinaan.


Tingkatkan Pembinaan Kemandirian WBP, Lapas Sarolangun Gandeng Dinas PU Buat Kolam Ikan

Lapas Sarolangun Gandeng Dinas PU Buat Kolam Ikan
Sarolangun - Tidak henti-hentinya petugas Lapas Sarolangun membuat terobosan, kali ini kejutan datang dari Pembinaan Kemandirian, dengan dukungan sumberdaya alam berupa hamparan lahan tidur cukup luas yang dimiliki oleh Lapas Sarolangun bisa diolah secara maksimal untuk menunjang Pembinaan Kemandirian bagi Warga Binaan Lapas Sarolangun.

Lokasi sisi kiri luar tembok blok, tepatnya di depan perumahan dinas  pegawai Lapas sarolangun yang akan dijadikan tempat pembuatan kolam, tampak masih padang rumput berawa
Hal ini terlihat dari pembuatan kolam ikan baru dengan ukuran cukup besar yakni 600 m2, sebelumnya pernah juga dibuat kolam dengan daya tampung kecil, sekarang dibuat baru 50 kali dari ukuran kolam sebelumnya, kondisi tekstur tanah sekitar Lapas yang digenangi air rawa berlumpur, tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi pembuatan kolam, terutama untuk sumber air yang berlimpah dari dalam tanah.

Tidak mudah membuat kolam yang besarnya 600 m2, jika mengandalkan tenaga manusia atau memperkerjakan Warga Binaan sepertinya butuh waktu yang cukup lama, dan agak mustahil rasanya bisa menggali tanah dengan kedalaman hingga 3.5 meter. 

Alat berat mulai bekerja, karena tekstur tanah berawa alat terpaksa disangga menggunakan balok kayu agar tidak terbenam
Kalapas Sarolangun Irwan.,A.Md.I.P.,S.H.,M.H bersama Kaur TU Hariyadi, SH, Kasubsi Pembinaan Nasrul, S.Pd, Kasubsi AO Hermansyah dan Kasubsi Kamtib Hidayat, S.Sy memutar otak mencari solusi agar program pembuatan kolam baru ukuran besar tersebut bisa terealisasi, setelah melalui diskusi yang cukup panjang, maka diputuskan untuk menggandeng Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sarolangun yang notabene-nya memiliki alat berat seperti escavator.

Kolam mulai terbentuk setelah alat bekerja beberapa hari
Proposal kerjasama pun dilayangkan, tidak menunggu waktu lama, Pemerintah Daerah Sarolangun melalui bupati Sarolangun mengabulkan proposal tersebut, "Alhamdulillah terima kasih banyak kami ucapkan kepada Pemda Kabupaten Sarolangun wabil khusus Pak Bupati yang berkenan mengabulkan proposal kita" tutur Kalapas.

Tampak tumpukan tanah berlumpur hasil galian Escvator milik Dinas PU, untuk proses pengeringan agar bisa dijadikan pematang Kolam setelah kering
Jalinan kerjasama ini hanyalah sebagian dari rentetan panjang hubungan baik antara Lapas Sarolangun dan Pemda Sarolangun, yang mana sebelum-sebelumnya ada beberapa proposal yang dikabulkan oleh Pemda Sarolangun untuk Lapas Sarolangun, seperti bantuan 2000 ekor benih ikan nila dari dinas perikanan, Bantuan buku-buku untuk perpustakaan Lapas Sarolangun dari Dispusipda Sarolangun, Bantuan pengecekan kesehatan bagi Warga Binaan lapas Sarolangun dari Dinas Kesehatan khsususnya Puskesmas Sarolangun.

Foto diambil dari Pos menara I, Tampak Kolam sudah selesai digali 100 persen, menunggu lumpur kering untuk dipasang bambu penahan tanah disepanjang sisi pinggir Kolam
Pembuatan kolam memakan waktu 1 minggu, yakni dimulai 4 Januari hingga 11 Januari 2019, pada alat berat bekerja membuat kolam, karena tekstur tanah berlumpur, maka alat berat harus diberikan penyangga balok agar tidak terbenam ke dasar lumpur, sekarang kolam sudah terbentuk, agar lumpur yang sudah ditumpukkan dipinggir kolam tidak erosi dan menutup kolam kembali karena dilubangi ikan nantinya, maka disiasati dengan pemasangan bambu disepanjang bibir kolam.

Hal ini tentu tidak serta merta karena mengingat lumpur masih sangat basah, maka perlu menunggu 2 - 5 minggu hingga lumpur dipastikan benar-benar kering dan bisa untuk diinjak kemudian diatasnya akan dilapasi dengan tanah latrik, Iskandar Warga Binaan Pemasyarakatan Lapas Sarolangun yang juga menjadi Tamping Lapangan pembuatan kolam oleh alat berat Dinas PU, mengatakan bahwa sebelum penebaran benih ikan nantinya perlu dilakukan penaburan zat kimia dengan kadar tertentu untuk mengurangi tingkat keasaman tanah.

"Nanti kolam ditaburkan zat kimia untuk mengurangi tingkat keasaman kolam dan membunuh biota air yang bisa menghambat pertumbuhan ikan pak" ujarnya, lebih lanjut Iskandar mengatakan untuk menghindari terjadi longsornya pematang Kolam maka perlu dipasang bambu, agar tanah pematang tertahan, dan ini juga untuk membuat ikan didalamnya tidak melubangi pematang kolam.

Kalapas melalui Kasubsi Pembinaan Nasrul, S.Pd mengonfirmasikan bahwa nanti untuk kedepannya jika proses budidaya pembesaran sudah berjalan, kita akan usahakan produksi pakan sendiri, karena kalau untuk beli dengan ukuran kolam yang cukup besar tentu membutuhkan biaya yang cukup besar, "Kita sudah ajukan proposal ke Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi melalui Dinas Perikanan Kabupaten Sarolangun", ujar Kasubsi Pembinaan.

"Lokasi sudah disurvey oleh tim dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi dan kabupaten Sarolangun, mudah-mudahan tidak ada kendala yang berarti, sehingga proposal pengadaan mesin produksi pelet ikan segera terealisasi" tutup Kasubsi Pembinaan.


Langganan Berita via Email